Skip to main content

Pleasing Someone

Have you ever really pleased someone? Or, if the English language is inadequate to question, try then this one in Bahasa Indonesia: Pernah nggak sih kamu membahagiakan [kami, seseorang, keluargamu]?

Sedari masa kanak-kanak, masa kecilmu--mungkin hingga sekarang--apakah engkau pernah teringat, terngiang bahwa engkau pernah membahagiakan seseorang? Bukan membahagiakan yang meminta balasan, bukan pula membahagiakan yang sekadar dari materi atau kepuasan. Tetapi, cukup membahagiakan hati mereka--entah itu dengan hal-hal atau momen-momen kecil, ataupun dari peristiwa-peristiwa yang membanggakan.

Juga, proses maupun hasil membahagiakan itu sebaiknya bertahan, bahkan bertambah dan berkembang, terus ada.

Orang yang kaubahagiakan akan mungkin sejenak dapat terlepas, terbebaskan dari apa pun yang membebankan(-i), seberat apa pun itu. Mungkin ia (mereka) tak akan mengakuinya atau menyembunyikan senyum mungil sukacita di balik keketusan raut wajah. Tetapi, engkau telah membahagiakan mereka, apa pun buahnya, hasilnya. Benih kebahagiaan sudah ada di sana, dataran hati mereka.

Membahagiakan pun mungkin berisiko. Tetapi, tidaklah perlu berlayar atau berpikir terlalu jauh seperti itu. Membahagiakan, secara tulus, selalu ada di sana, di tempatmu berada.

Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***