Skip to main content

Demo Diri Sendiri

Banyak orang mendemo orang-orang yang lainnya. Mereka mendemo para wakil rakyat yang ingin membangun gedung baru DPR-MPR RI. Tetapi, apakah mereka pernah mendemo diri mereka sendiri? Apakah mereka pernah mempunyai ambisi sebesar itu--membangun gedung baru yang tinggi dan megah? Apakah mereka pernah mempunyai hasrat, keberanian, dan kenyataan untuk memiliki setidak-tidaknya rumah sendiri?

Banyak orang mendemo orang-orang yang melakukan korupsi. Mereka mendemo pejabat-pejabat pemerintahan yang menerima suap, mengambil uang rakyat, serta korupsi. Tetapi, mereka sendiri tergoda untuk mengambil uang sisa kembalian Rp19.000,-. Mereka juga kerap telat. Mereka mengorupsi kejujuran dan keberanian. Mereka lepas ingatan bahwa berkhianat terhadap hal-hal besar pasti telah terlebih dulu selingkuh dari hal-hal kecil.

Semoga pribadi-pribadi yang mendemo orang-orang lainnya itu mau mendemo diri mereka sendiri terlebih dahulu. Tetapi, mungkin orang-orang yang didemo tersebut pun pernah melakukan seperti orang-orang yang mendemo itu. Lalu, mereka lupa ingatan. Mereka membiarkan diri didemo karena tiada lagi orang-orang atau hal-hal yang bisa mereka demo. Akhirnya, walaupun memang perlu pribadi-pribadi pendemo, orang-orang yang didemo tersebut dapat melakukan sesuatu yang besar--mendemo diri mereka sendiri.

Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***