Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2011

Memilih untuk Miskin

Kita tidak bisa menghapuskan kemiskinan sepenuhnya, semuanya, walaupun kita mungkin bisa memeranginya (menguranginya) seperti yang dilakukan oleh Manny Pacquiao, karena kemiskinan adalah pilihan. Ada orang-orang yang memilih untuk miskin.

Kekayaan sejati adalah di dalam hati. Rumah yang besar adalah di dalam hati. Orang kaya yang masih merasa miskin adalah orang miskin. Orang kaya yang memilih untuk miskin karena suatu misi atau panggilan hidup, dan ia tidak merasa malu atau keberatan menjadi miskin, pun ia merasa kaya di dalam hati dan pikiran--dan memang demikian dengan adanya damai sejahtera, pengetahuan, kebaikan, serta lain-lainnya--ia adalah orang kaya.

Henry David Thoreau menulis: However, when I have thought to indulge myself in this respect, and lay their Heaven under an obligation by maintaining certain poor persons in all respects as comfortably as I maintain myself, and have even ventured so far as to make them the offer, they have one and all unhesitatingly preferred to r…

Kupu-kupu

Biar kutanya padamu.

Apakah ada kupu-kupu yang tunanetra?

Sebab keindahannya dapat mencelikkan mata seseorang.

Apakah engkau pernah mendengar kupu-kupu tertawa?

Sebab sayapnya dan terbangnya dapat membuat sukacita.

To Henry David Thoreau

To Henry David Thoreau:

Who never married and that had no children.
We--and those who admire and extend your works--are your children.

Who never went to church,
but made me (us) go to church because of your words.

Who never drank wine,
but your words could become wines.

Who never ate flesh,
but you were equipped with most adapted and serviceable body, firmly built, with strong, serious blue eyes, strong hands.

Who never knew the use of tobacco,
and that I (we) agree with you on that.

I wonder...
who is like you, who never married and had no children, but has so many children who admire and extend his works?
who never went to church, but made us go to church because of his words
whom his words could become wines
whom equipped with most adapted and serviceable body, firmly built, with strong, serious blue eyes, strong hands
whom never knew the use of tobacco, and that we agree with him.

A Brief Conversation

"Were You there, Lord...?"

"I was there. But, you didn't ask whether I was there..."

"Are You here, Lord...?"

"No, son, but you're not trying to seek My face..."

I Agree

Perhaps they were too fast, but the sticker on the car says: "Don't drive faster than your guardian angel can fly."

Peninju & Petulis

Dibaca atau tidak, itulah yang membedakan atau memberikan kemenangan bagi seorang penulis. Dibaca per paragraf, per kalimat, per kata, maupun hanya satu kata, ataupun terikat satu huruf saja--asalkan secara sungguh-sungguh--maka penulis telah memperoleh kemenangan.

Seperti halnya dalam pertandingan tinju yang ada perhitungan oleh juri terhadap jumlah pukulan dari para petinju. Seperti itulah para pembaca. Tinjuan-tinjuan yang terlihat, terhitung oleh sang juri. Pukulan-pukulan yang tajam, sungguh-sungguh, yang berarti. Pukulan ibarat guntur yang mengagetkan, menghentakkan isi dada.

Penulis sudah menang, atau setidaknya, ia berusaha, ingin menang. Pun tujuannya adalah merobohkanhati pembacanya. Mengubah pola pikir, paradigmanya--ataupun kalau ada kata baru, maka parahatinya. Menyentuh hatinya, jiwanya. Memasuki relung dirinya.

Apakah engkau mempermasalahkan huruf 't' dan 'n' di atas sana?

Pretending

Although sometimes pretending is useful...

Don't pretend to be humble. Be humble.
Don't pretend to be smart. Be smart.
Don't pretend to care. Do care.
Don't pretend to smile. Smile.
Don't pretend to be enthusiastic. Be enthusiastic!
Don't pretend to be sluggish. Be sluggish.
Don't pretend to work hard. Work hard!
Don't pretend to write. Write.

Pleasing Someone

Have you ever really pleased someone? Or, if the English language is inadequate to question, try then this one in Bahasa Indonesia: Pernah nggak sih kamu membahagiakan [kami, seseorang, keluargamu]?

Sedari masa kanak-kanak, masa kecilmu--mungkin hingga sekarang--apakah engkau pernah teringat, terngiang bahwa engkau pernah membahagiakan seseorang? Bukan membahagiakan yang meminta balasan, bukan pula membahagiakan yang sekadar dari materi atau kepuasan. Tetapi, cukup membahagiakan hati mereka--entah itu dengan hal-hal atau momen-momen kecil, ataupun dari peristiwa-peristiwa yang membanggakan.

Juga, proses maupun hasil membahagiakan itu sebaiknya bertahan, bahkan bertambah dan berkembang, terus ada.

Orang yang kaubahagiakan akan mungkin sejenak dapat terlepas, terbebaskan dari apa pun yang membebankan(-i), seberat apa pun itu. Mungkin ia (mereka) tak akan mengakuinya atau menyembunyikan senyum mungil sukacita di balik keketusan raut wajah. Tetapi, engkau telah membahagiakan mereka, apa p…

Don't be Too Much

Soccer (football) player, don't be fatter than the ball, lest you can't after the ball.

Basketball player, don't be too much taller than the ring, lest the game is uninteresting and not challenging.



"Simplify in what is not necessary for your content." --Henry Siedel Canby

Demo Diri Sendiri

Banyak orang mendemo orang-orang yang lainnya. Mereka mendemo para wakil rakyat yang ingin membangun gedung baru DPR-MPR RI. Tetapi, apakah mereka pernah mendemo diri mereka sendiri? Apakah mereka pernah mempunyai ambisi sebesar itu--membangun gedung baru yang tinggi dan megah? Apakah mereka pernah mempunyai hasrat, keberanian, dan kenyataan untuk memiliki setidak-tidaknya rumah sendiri?

Banyak orang mendemo orang-orang yang melakukan korupsi. Mereka mendemo pejabat-pejabat pemerintahan yang menerima suap, mengambil uang rakyat, serta korupsi. Tetapi, mereka sendiri tergoda untuk mengambil uang sisa kembalian Rp19.000,-. Mereka juga kerap telat. Mereka mengorupsi kejujuran dan keberanian. Mereka lepas ingatan bahwa berkhianat terhadap hal-hal besar pasti telah terlebih dulu selingkuh dari hal-hal kecil.

Semoga pribadi-pribadi yang mendemo orang-orang lainnya itu mau mendemo diri mereka sendiri terlebih dahulu. Tetapi, mungkin orang-orang yang didemo tersebut pun pernah melakukan seper…

Pensil, Jurnal, HP

Saat sedang berada di perpustakaan, seorang penulis memasuki sebuah toilet membawa dua pensil, dua jurnal, dan satu HP. Ia meletakkan barang-barangnya di wastafel, lalu menuju ke pispot. Di dalam toilet itu, ia bersama satu orang lain yang memakai kacamata, berbaju hijau bergaris, dan celana selutut.

Penulis tadi curiga terhadap orang itu dan khawatir ia akan mencuri barang-barangnya. Tetapi, penulis itu berpikir di dalam hatinya, tidak apa-apa kalau dia mengambil HP saya.

Penulis itu merasa tidak apa-apa bila HP-nya diambil, tetapi ia akan mengejar kalau orang itu mengambil dua pensil, apalagi dua jurnalnya. Ia merasa kedua pensil dan kedua jurnalnya lebih penting, lebih berharga ketimbang sebuah HP-nya itu.

5 Juni 2011

Ini bukan seperti dalam film. Tetapi, gambarannya masih terasa jelas di ingatan. Dan saya mungkin akan merasa bersalah bila tidak menuliskannya.

Pada pagi, hari ini, sekitar pukul 9.30, saat saya hendak pulang menuju ke rumah setelah membeli buku di pasar kaget Juanda, saya melihat ada sepeda motor biru (mungkin sejenis Mi*) tergeletak di sebelah kiri, dekat pembatas, jalur cepat jalan Margonda, Depok. Hampir di dekat terminal.

Saya kira hanya sepeda motor yang tergeletak. Spion sepertinya terlepas. Dan orang-orang berlalu-lalang, tidak ada yang berhenti. Ternyata, setelah saya hampir mendekati dan melewati motor ringsek itu, ada seseorang (bapak-bapak) bertopi, mungkin warna merah putih, menyeberang dari arah berlawanan menuju ke sepeda motor itu.

Ada *maaf* otak terburai. Darah merah menempel di permukaan tanah jalan raya.

Beberapa pengendara sepeda motor berhenti, ingin mengetahui apa yang telah dan tengah terjadi. Saya pun berhenti. Tetapi, kami semua berhenti agak jauh dari lokas…

Kulit dan Sentuhan

Betapa elastis kulitmu.
Seiring tahun merangkak, berjalan, dan berlalu,
daging dan tulang dan sendi-sendi
memaksa kulitmu untuk terus berkembang.

Janganlah bosan akan sentuhan, dengan kulitmu.
Seolah-olah tiap sentuhan
adalah yang pertama kalinya,
di dalam kehidupanmu.

Bahkan, setiap hari engkau menyentuh bumi
melalui jejak-jejak kakimu.
Bahkan, setiap pagi, udara sejuk
menyapa rongga napas, menyentuh kulitmu.

Cuma Baca

Suatu hari, penulis David Foster Wallace ditanyai oleh seorang temannya, "Bagaimana caranya kamu menjadi begitu pintar?"1

David Foster Wallace menjawab, "Saya cuma membaca."

Saya heran, bukan tentang anekdot singkat di atas tadi, melainkan tentang penulis Henry David Thoreau yang mungkin tidak pernah pergi keluar negeri, tetapi tulisan-tulisannya bisa ke luar negeri.(Mirip dengan pengalaman penulis Stephen King--menurut penulis dan sahabat saya, Julius Fernando--yang mungkin dulu tak pernah keluar negeri dan hanya membuat setting novel-novelnya di kota Maine.)

Ia, Henry David Thoreau, pun sepertinya sangat pintar. Kabarnya, ia sering ke perpustakaan dan meminjam segudang buku. Jadi, saya percaya, seperti halnya Wallace, Thoreau pun cuma membaca.

Jadi, kalau ketiga contoh penulis itu saja, hanya dengan membaca bisa begitu pintar, kita pun tentu dapat menjadi seperti mereka.

Penulis wanita pula, Laura Hillenbrand, yang mungkin tidak akan pernah bisa beranjak keluar n…

Senyata Rayuan Tulisan Purbakala

Mira bertanya kepada Agni, "Seharusnya, seberapa nyata, sih, tulisan kita itu?"

Lalu, Agni berkata, "Sini, coba berikan tangan kananmu..."

Kemudian, Agni menghisap sayap tangan Mira, menggigitnya hingga berdarah, dan Mira menjerit kesakitan kecil.

Akan tetapi, alih-alih meminta menghentikan gigitan, Mira malah menikmati kenyataan itu, membiarkan Agni menggigit sayap tangan kanannya, di antara ibu jari dan telunjuknya tersebut.

Agni berkata, "Seharusnya, seperti itulah nyatanya tulisan kita, Mira."

Within A Humility

I digested these types of knowledge
with a humility in mind,
to feed my soul,
and mostly to cheer up my heart,
in which
I owe and will repay
onto others' mind,
heart and soul.

My dedication in learning
is to dwell in, to measure
my humility.

Above all else,
I owed to the Lord, my God,
and that I am asking Him
to guard and guide my paths
as I continue to walk in this life,
after I learned of these subjects,
and will do still, keep learning,
and He is my Source
of everything.

Amen.

Dialah Sastra

Penulis, jika kecintaanmu pada sastra adalah setengah-setengah, mungkin cintamu kepada Tuhan juga setengah-setengah. Padahal, jika engkau suam-suam kuku (setengah-setengah), Ia--Penulis kehidupanmu--menurut Wahyu 3:16, akan memuntahkanmu (bukan seperti Yohanes 3:16 yang: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia [umat manusia] ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal). Saya tidak tahu bagaimana dengan sastra akan memperlakukanmu.

Anehnya, jika cintamu kepada-Nya total, kecintaanmu pada sastra akan total pula. Tetapi, Dialah segalanya, Yang utama, dan mencakup segalanya. Dialah Sastra dengan S besar.

Saya merasa beruntung dulu, ketika kuliah, mengambil--a.k.a. mendapat anugerah--jurusan Sastra. Nah, bukannya saya mengecilkan arti linguistik--saya suka linguistik, tata bahasa, etc. Linguistik adalah seumpama mencintai Dia dengan segenap logika, pikiran, akal budi kita (Lih. L…